Sejarah Kuala Tripa



asal usul Nama Kuala Tripa/Teripa di Nagan Raya, Aceh, mulai melekat sekitar tahun 1916, berawal dari kisah perjalanan Tgk Nyak Ali dari Pidie yang menyebut wilayah tersebut \"tarek pha(capek paha). Kini, kawasan ini merupakan gampong dan kecamatan di Nagan Raya, yang terkenal dengan ekosistem rawa gambut dan perkembangan wisata pantai. Dulu, daerah ini adalah lintasan gajah menuju sungai untuk meminum air. Hikayat Ranto Kepala Gajah itu didapat dari sejarah kerajaan Teuku Nyak Tjut Puntong, Koloni Belanda, dan warisan cerita turun-temurun.Pada mulanya cerita ini bersumber dari kisah penemuan sepenggal kepala gajah di tengah jalan hutan Desa Kuala Tripa. Kepala gajah itu sengaja ditinggal oleh harimau yang memangsanya. Setelah badannya habis dimakan, harimau itu menyisakan dan meletakkan kepala gajah di tengah jalan. Masyarakat heboh hingga kemudian memberi nama kawasan hutan lindung itu menjadi Rantau Kepala Gajah yang kini tinggal kenangan. “Barangkali karena kepala gajah itu diletakkan jauh dari dalam hutan makanya warga memberi kata ‘rantau’ (kawasan jalan yang jarang terdapat perumahan), Sejak dahulu, kawasan hutan ini memang dipercayai warga wajib dilindungi. Saat itu, banyak satwa liar seperti gajah, harimau, beruang, macan, dan binatang lain hidup di hutan Ranto Pala Gajah. Namun, kelestarian hewan-hewan itu mulai punah sejak 1995 setelah seorang oknum anggota TNI, anggota Koramil [komando rayon militer] setempat, menebang pohon-pohon besar di daerah itu dan dijual untuk kepentingannya. Karena ada yang memulai, akhirnya warga beramai-ramai ikut menebang hutan dan mengeksploitasi kayu-kayunya untuk dikomersilkan. Sementara nama Teripa (Tripa) mulai melekat di daerah itu pada 1916, usai seorang ulama asal Beureu’eh, Pidie, yaitu Tgk Nyak Ali, bersama muridnya berjalan kaki tiba di Desa Kuala Tripa. Perjalanan itu melewati wilayah kerajaan Seunagan, Gunung Kong, Sena’am hingga akhirnya menetap di Kuala Tripa.Sejarah dan Asal Usul
Asal Nama (1916): Nama \"Tripa (awalnya Teripa) konon berasal dari ungkapan murid Tgk Nyak Ali, seorang ulama asal Beureu\\\'eh, Pidie. Saat berjalan kaki melewati wilayah tersebut, muridnya mengeluh tarek pha (bahasa Aceh: paha terasa pegal/capek) karena beratnya medan perjalanan dari Seunagan menuju Kuala Tripa.
Wilayah: Kawasan ini berpusat di sekitar aliran Krueng (Sungai) Tripa, dari daerah Lamie hingga meluas ke area Kuala.

Perkembangan Wilayah
Administrasi: Dahulu berada di bawah kecamatan Darul Makmur, kini wilayah tersebut telah dimekarkan menjadi Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya.
Ekosistem Rawa: Kawasan ini merupakan bagian dari Rawa Tripa, salah satu dari tiga hutan rawa gambut tersisa di Aceh (bersama Rawa Kluet dan Rawa Singkil), yang seluas -+ 61.803 hektar
Lingkungan: Kawasan ini mengalami perubahan signifikan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit sejak beberapa dekade terakhir.

Potensi Saat Ini
Pariwisata: Saat ini, kawasan Kuala Tripa berkembang pesat menjadi destinasi wisata, salah satunya adalah Pantai CUPOT Kuala Tripa yang terletak di Kecamatan Tripa Makmur, yang menawarkan pemandangan fenomena alam saat matahari terbenam (sunset) yang menghilang di cakrawala barat akibat rotasi bumi dan tentunya ada berbagai kuliner khas aceh seperti gule cu, mie kepiting dan kuliner seafood lainnya.

Pantai cantik ini mulai ramai dikunjungi sejak tahun 2022 lalu sampai dengan sekarang semakin banyak di minati oleh wisatawan lokal maupun nasional dan mancanegara.




Kuala Tripa

Alamat
Jl. Tgk. Cot Plieng No.48 Kota Baru Banda Aceh 23125
Phone
Telp. 082246419042
Email
[email protected]
Website
kualatripa.sigapaceh.id

Kontak Kami

Silahkan Kirim Tanggapan Anda Mengenai Website ini atau Sistem Kami Saat Ini.

Total Pengunjung

25.209